PEDOMANJOGJA

Nasib Penulis Buku Pelajaran di Era AI: Tidak Hilang, Tapi Dipaksa Berubah

Redaksi

Redaksi

29 May 2026, 12:02 WIB
Nasib Penulis Buku Pelajaran di Era AI: Tidak Hilang, Tapi Dipaksa Berubah
Di sebuah ruang kerja sederhana yang dipenuhi tumpukan buku dan catatan revisi, Dwi Sabdo masih setia menulis. Di tengah maraknya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI)


pedomanJogja.com (Sleman) Di sebuah ruang kerja sederhana yang dipenuhi tumpukan buku dan catatan revisi, Dwi Sabdo masih setia menulis. Di tengah maraknya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini mampu menyusun paragraf dalam hitungan detik, ia justru percaya satu hal: profesi penulis tidak akan punah.

“Yang berubah adalah cara kerjanya,” kata Dwi saat ditemui, Jumat, 29 Mei 2026.

Bagi Dwi, AI memang menawarkan kemudahan.


Teknologi itu bisa membantu membuat kerangka tulisan, mencari referensi, hingga mempercepat proses penyusunan draft. Namun ada sesuatu yang menurutnya belum mampu disentuh mesin: pengalaman manusia.

“AI tidak punya pengalaman hidup, tidak punya rasa, tidak punya perspektif personal,” ujarnya. “Tulisan yang benar-benar kuat tetap lahir dari manusia.”


Di tengah derasnya digitalisasi pendidikan, penulis buku pelajaran seperti Dwi memang menghadapi situasi yang tidak mudah. Buku cetak perlahan tergeser modul digital. Siswa lebih akrab dengan materi daring yang bisa diakses gratis lewat gawai. Sementara itu, penerbit makin berhitung sebelum menerbitkan buku baru karena harus mengikuti perubahan kurikulum dan pasar yang cepat berubah.

Perubahan itu ikut memengaruhi nasib para penulis buku ajar. Profesi yang dulu dianggap cukup menjanjikan, kini kian terjepit oleh rendahnya royalti, pembajakan buku, hingga minimnya minat baca.


Dwi mengaku, menulis buku pelajaran bukan pekerjaan singkat. Prosesnya bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Mulai dari riset, penyusunan materi, penyesuaian kurikulum, hingga revisi berulang.

“Energinya besar sekali. Tapi hasil finansialnya sering kali belum sebanding,” katanya.

Di Indonesia, royalti buku rata-rata hanya berkisar 5 hingga 15 persen dari harga jual. Jika penjualan buku tidak tinggi, penghasilan penulis pun ikut terbatas.

Karena itu, banyak penulis buku pelajaran akhirnya tidak menggantungkan hidup sepenuhnya dari royalti.


Menulis justru menjadi pintu pembuka peluang lain: menjadi pembicara, pelatih, konsultan pendidikan, hingga pengembangan karier akademik.

“Menulis itu dampaknya jangka panjang,” ujar Dwi. “Kadang bukan uang langsung yang didapat, tetapi kepercayaan dan kesempatan.”


Selama ini, Dwi aktif menulis di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Fokus kajiannya mencakup fisika material, instrumentasi, lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat. Sejumlah buku yang pernah ia tulis antara lain Buku Ajar Fisika Material, Buku Teks Fisika Sel Surya, dan buku fisika SMA berjudul Kajian Konsep Fisika.


Meski tantangan terus datang, ia berharap profesi penulis buku pelajaran tetap mendapat perhatian lebih serius. Menurut dia, kualitas pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kualitas bahan ajar dan orang-orang yang menyusunnya.

“Kalau penulis tidak dihargai, lama-lama makin sedikit yang mau serius menulis buku pelajaran,” kata Dwi. “Padahal isi buku sangat menentukan kualitas pendidikan anak-anak kita.”

Di era AI yang serba cepat, Dwi percaya satu hal masih akan tetap dicari, tulisan yang lahir dari pengalaman manusia. (Dan)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...