pedomanjogja.com (Yogyakarta) – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas kawasan pusat Kota Yogyakarta, masih berdiri deretan kios buku yang seolah menolak dilupakan zaman. Rak-rak berisi buku baru dan bekas tersusun rapat di balik kios sederhana, menyimpan cerita panjang tentang kejayaan literasi di Kota Pelajar.
Tempat itu dikenal masyarakat sebagai Shopping Center Yogyakarta, atau yang lebih akrab disebut "Shopping". Bagi generasi mahasiswa dan pelajar era 1990-an hingga awal 2000-an, kawasan ini bukan sekadar pusat penjualan buku, melainkan ruang pencarian ilmu, tempat berburu referensi, sekaligus surga bagi pecinta buku dengan kantong terbatas.
Dahulu, kawasan Shopping membentang jauh lebih luas. Namun pembangunan Taman Pintar mengubah wajah kawasan tersebut. Sebagian besar area beralih fungsi, menyisakan sekitar sepertiga wilayah yang kini masih digunakan sebagai pusat penjualan buku.
Meski tak lagi sebesar dulu, jejak kejayaannya masih terasa. Di antara lorong-lorong yang kini lebih lengang, ribuan judul buku masih berjajar menunggu pembacanya.
Pada masa keemasannya, hampir semua kebutuhan buku dapat ditemukan di Shopping. Buku pelajaran sekolah, referensi kuliah dari berbagai disiplin ilmu, novel, hingga buku-buku langka yang sudah tidak lagi beredar di toko buku besar tersedia di sini.
Justru buku bekas menjadi daya tarik utama. Selain harganya yang lebih terjangkau, banyak judul yang sulit ditemukan di tempat lain masih bisa ditemukan di rak-rak pedagang Shopping.
Namun waktu terus berjalan. Perubahan teknologi perlahan mengubah kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi dan membaca.
Salah satu penjual buku yang masih bertahan adalah Oman, pria yang saat ini berusia 55 Tahun. Selama lebih dari satu dekade, ia menyaksikan langsung bagaimana dunia perbukuan mengalami perubahan besar.
"Kalau penurunannya sebenarnya sudah terasa sejak sekitar sepuluh tahun lalu. Orang mulai beralih ke internet, banyak yang mencari bahan bacaan dari ponsel atau komputer," ujarnya.
Menurut Oman, pandemi Covid-19 menjadi masa paling berat bagi para pedagang buku di kawasan tersebut.
"Puncaknya waktu Covid kemarin. Penjualan benar-benar turun drastis. Setelah pandemi selesai pun kondisinya tidak pernah kembali seperti dulu," katanya.
Ia masih mengingat masa ketika Shopping hampir tak pernah sepi. Mahasiswa dari berbagai kampus datang silih berganti mencari referensi kuliah. Saat tahun ajaran baru dimulai, lorong-lorong kawasan itu dipenuhi pembeli yang berburu buku pelajaran maupun buku penunjang pendidikan.
Kini suasana itu hanya tinggal kenangan.
"Kalau sekarang sehari paling yang beli empat sampai lima orang saja. Itu pun kadang tidak setiap hari. Saya buka dari jam delapan pagi sampai jam lima sore, pembeli yang datang langsung memang sedikit sekali," tuturnya.
Sebagian transaksi yang masih terjadi saat ini justru berasal dari sesama pedagang buku atau penjual eceran yang sedang mencari pesanan pelanggan.
"Yang sering beli sekarang malah pedagang buku juga. Mereka dapat pesanan lalu mencari bukunya ke sini," ujarnya sambil tersenyum.
Di tengah menurunnya minat beli buku cetak, masih ada beberapa jenis buku yang bertahan. Menurut Oman, buku cerita anak dan buku mewarnai menjadi kategori yang hingga kini masih cukup diminati.
"Buku dongeng anak sama buku mewarnai masih lumayan jalan. Kalau buku-buku lain banyak yang turun karena orang sekarang lebih sering membaca lewat hape," katanya.
Meski tak seramai dulu, Shopping masih memiliki tempat tersendiri di hati sebagian masyarakat. Salah satunya dirasakan oleh Magistra Hayu, pengunjung yang kerap mampir ketika mengajak keluarganya berwisata ke Taman Pintar.
Baginya, membeli buku di Shopping bukan sekadar berbelanja, tetapi juga menghadirkan nostalgia masa kuliah sekaligus pengalaman menyenangkan bagi anak-anaknya.
"Ya, tiap pergi ke Taman Pintar bersama anak-anak pasti sekalian membeli buku cerita atau dongeng. Belanja di sini enak, harga bukunya terjangkau dan bisa ditawar. Selain itu pilihannya juga sangat beragam," ujarnya.
Perubahan budaya membaca, kemajuan teknologi digital, serta melimpahnya sumber informasi daring memang menjadi tantangan besar bagi para pedagang buku tradisional. Namun bagi Oman dan pedagang lain yang masih bertahan, menjaga kios tetap buka bukan semata soal keuntungan. Ada kecintaan terhadap buku yang membuat mereka tetap setia menunggu pembeli datang.
Sore itu Oman kembali merapikan buku-bukunya. Sesekali ia menoleh ke arah jalan, berharap ada langkah yang singgah ke kiosnya. Di tengah lorong yang tak lagi seramai masa lalu, ia tetap menjaga lembar demi lembar pengetahuan agar terus menemukan pembacanya.
"Selama masih ada yang mencari buku, saya masih bertahan di sini," ucapnya pelan.
Kalimat sederhana itu seakan menggambarkan kondisi Shopping Center Yogyakarta hari ini. Tak lagi seramai masa kejayaannya, tetapi belum menyerah. Di tengah derasnya arus digital, kawasan ini masih berdiri sebagai salah satu jejak penting sejarah literasi Kota Pelajar, menjaga nyala kecil yang terus bertahan di antara halaman-halaman buku yang menua. (Fzn)