pedomanjogja.com (Yogyakarta) Suasana khusyuk yang biasanya dirasakan jutaan umat Islam di Tanah Suci Makkah, Sabtu (31/5), seakan hadir di dalam lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta. Sebanyak 100 warga binaan mengikuti kegiatan manasik haji yang digelar di Masjid Al Fajar dan halaman tengah lapas.
Mengenakan kain ihram dan berjalan tanpa alas kaki, para peserta yang oleh Kepala Lapas Kelas IIA Wirogunan, Marjiyanto, akrab disebut sebagai "santri", mengikuti setiap rangkaian manasik dengan penuh kesungguhan. Beberapa di antara mereka tampak bertato, namun tetap larut dalam suasana spiritual yang mendalam.
Kegiatan diawali dengan pembekalan dan refleksi mengenai makna wukuf di Arafah yang disampaikan oleh Ustaz Munif Tauhid, Kepala Lapas Marjiyanto, H. Taufik Ridwan, serta perwakilan santri, Nur Ahmad Afandi. Suasana semakin syahdu ketika seluruh peserta bersama-sama melantunkan selawat dan talbiyah.
Tak sedikit warga binaan yang meneteskan air mata saat mengucapkan talbiyah berulang kali. Bagi mereka, prosesi tersebut bukan sekadar simulasi ibadah haji, melainkan juga momen perenungan atas perjalanan hidup yang pernah dijalani.
Direktur Utama Latifa Haramain, H. Taufik Ridwan, memandu para peserta menjalani rangkaian manasik berikutnya, termasuk pengambilan simbolis kerikil untuk melempar jumrah.
Dalam kegiatan ini, kerikil diganti dengan biji jagung yang digunakan untuk melontar jumrah ula, wustha, dan aqabah.
Prosesi lempar jumrah menjadi salah satu momen paling emosional. Dengan penuh semangat, para warga binaan melemparkan biji jagung sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan dan hawa nafsu yang mereka yakini pernah membawa mereka pada kesalahan di masa lalu.
Bahkan, beberapa peserta tampak histeris dan menangis. Mereka mengaku teringat berbagai peristiwa yang membuat hidupnya berubah, termasuk keretakan hubungan keluarga dan keputusan-keputusan yang berujung pada hukuman penjara.
Setelah prosesi lempar jumrah, para peserta melanjutkan rangkaian tawaf mengelilingi replika Ka'bah dan sa'i. Dalam suasana yang hening, banyak warga binaan terlihat khusyuk berdoa.
"Saya sangat berharap suatu saat setelah keluar dari Wirogunan bisa pergi ke Tanah Suci, baik untuk umrah maupun haji," ujar Mery, salah satu warga binaan yang telah menghafal 13 juz Al-Qur'an.
Menurut pengelola pembinaan keagamaan di lapas, cukup banyak warga binaan yang memanfaatkan masa pembinaan untuk memperdalam ilmu agama. Sebagian di antaranya telah menghafal lebih dari lima juz Al-Qur'an, bahkan ada yang tercatat telah mengkhatamkan Al-Qur'an hingga 217 kali.
Ustaz Munif Tauhid mengatakan, kehidupan di dalam lapas tidak selalu identik dengan penderitaan seperti yang sering dibayangkan masyarakat. Menurutnya, banyak warga binaan justru menemukan ruang untuk memperbaiki diri dan memperdalam pemahaman agama.
"Jangan mengira orang yang berada di penjara hidupnya selalu tersiksa atau hanya menjalani kegiatan yang sia-sia. Banyak hikmah yang bisa diambil. Mereka bisa lebih fokus mengaji, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam karena hampir setiap hari ada kajian keagamaan," ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah kegiatan pembinaan keagamaan di Lapas Wirogunan juga disiarkan melalui Vertizone TV sehingga keluarga di rumah dapat menyaksikan aktivitas positif yang dijalani warga binaan.
"Melalui siaran itu, keluarga bisa melihat bahwa anggota keluarganya di dalam lapas tetap belajar mengaji, membaca Al-Qur'an, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik," katanya.
Kegiatan manasik haji yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh haru tersebut ditutup dengan makan bersama. Sejumlah pengurus Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Daerah Istimewa Yogyakarta turut hadir mendampingi dan memberikan dukungan kepada para warga binaan.
Bagi sebagian peserta, manasik haji itu bukan hanya simulasi ibadah. Di balik dinding penjara, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi, harapan, sekaligus ikhtiar untuk menata kembali kehidupan yang lebih baik setelah masa pembinaan berakhir. (Hrd)