PEDOMANJOGJA

DaurKita, Inisiatif Mahasiswa UGM yang Menjembatani Warga Menuju Pengelolaan Sampah yang Lebih Baik

Redaksi

Redaksi

08 Jun 2026, 03:36 WIB
DaurKita, Inisiatif Mahasiswa UGM yang Menjembatani Warga Menuju Pengelolaan Sampah yang Lebih Baik
Digagas oleh 12 mahasiswa, DaurKita menghadirkan layanan Bank Sampah Digital yang saat ini telah memuat 18 mitra bank sampah yang tersebar di enam kecamatan.

pedomanjogja.com (Sleman) - Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Yogyakarta. Di tengah berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) memilih mengambil peran dengan cara yang sederhana namun berdampak, memudahkan masyarakat menemukan bank sampah terdekat.


Melalui inisiatif bernama DaurKita, para mahasiswa UGM membangun sebuah laman digital yang berisi basis data bank sampah di Yogyakarta dan sekitarnya. Langkah ini diharapkan dapat menjawab salah satu persoalan mendasar dalam pengelolaan sampah, yakni keterbatasan akses informasi mengenai lokasi dan layanan bank sampah.


Inisiatif tersebut mendapat dukungan dari program GIK Advanced Leadership Arena (GALA) yang diselenggarakan oleh Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. DaurKita kemudian diperkenalkan kepada publik melalui workshop bertajuk Bijak Mengelola Sampah yang digelar bersama Lokalogi by Pramuka UGM pada Sabtu (6/6).


Project Officer DaurKita, Jeffryta Nasya Sanjaya, mengatakan timnya ingin menghadirkan solusi yang dekat dengan kebutuhan mahasiswa sekaligus masyarakat umum.

"DaurKita hadir untuk menjembatani teman-teman mahasiswa UGM dengan tempat pengelolaan sampah terdekat. Dengan adanya informasi yang mudah diakses, kendala akses dan minimnya informasi dapat dikurangi," ujarnya.


Digagas oleh 12 mahasiswa, DaurKita menghadirkan layanan Bank Sampah Digital yang saat ini telah memuat 18 mitra bank sampah yang tersebar di enam kecamatan. Melalui platform tersebut, pengguna dapat mengetahui lokasi bank sampah serta jenis sampah yang dapat diterima, mulai dari sampah organik, anorganik, limbah B3, hingga residu.


Namun DaurKita tidak hanya berhenti pada penyediaan data. Dalam kegiatan workshop, peserta juga diajak memahami pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.


Materi edukasi disampaikan oleh Lokalogi, sebuah inisiatif yang digagas Pramuka UGM sejak 2024 dan aktif mendampingi pengelolaan sampah dalam berbagai kegiatan besar mahasiswa seperti Pionir, Gelex, Porsenigama, Culfest, hingga konser tahunan kampus.


Dari pengalaman tersebut, Lokalogi mencatat bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal menyediakan tempat sampah, melainkan juga membangun kesadaran kolektif untuk memilah sampah sejak awal.


Salah satu perwakilan Lokalogi, Yudhistira, menjelaskan bahwa lonjakan sampah residu biasanya terjadi menjelang penutupan acara ketika jumlah pengunjung meningkat, sementara pengawasan terhadap tempat sampah menjadi lebih terbatas.

Menurutnya, tantangan lain yang sering luput dari perhatian adalah sampah yang dihasilkan selama masa persiapan kegiatan. Sampah jenis ini sering kali tidak tercatat maupun terkelola dengan baik.


Sementara itu, perwakilan Lokalogi lainnya, Abiyyi, menilai keberadaan bank sampah memiliki peran penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.


Ia menjelaskan bahwa bank sampah dapat menjadi penghubung antara masyarakat sebagai penghasil sampah dengan industri daur ulang yang jumlahnya masih terbatas. Selain itu, bank sampah juga memberikan insentif ekonomi yang dapat mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah.


"Sampah yang terpilah masih memiliki nilai ekonomi. Karena itu, proses pemilahan dari sumber menjadi sangat penting agar sistem pengelolaan sampah yang sirkular dapat berjalan," ujarnya.


Di akhir kegiatan, peserta diajak memahami konsep pengelolaan sampah melalui permainan kelompok yang interaktif. Dengan pendampingan fasilitator, peserta diajak melihat persoalan sampah dari berbagai sudut pandang sekaligus mencari solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Di tengah kompleksitas persoalan sampah di Yogyakarta, kehadiran DaurKita menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil. Melalui pendekatan yang dekat dengan generasi muda dan memanfaatkan teknologi digital, para mahasiswa UGM berupaya membangun budaya baru yang lebih bertanggung jawab terhadap sampah.


Bukan sekadar menyediakan informasi, DaurKita menjadi ruang belajar bersama bahwa setiap orang memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Sebab pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan hanya urusan pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari kebiasaan sehari-hari. (Fzn)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...