PEDOMANJOGJA

Dari Keluarga Sederhana di Kulon Progo, Risti Wujudkan Mimpi Kuliah Gratis di UGM

Redaksi

Redaksi

12 Jun 2026, 03:08 WIB
Dari Keluarga Sederhana di Kulon Progo, Risti Wujudkan Mimpi Kuliah Gratis di UGM
Dari sebuah rumah sederhana di Kulon Progo, langkah Risti menuju UGM menjadi bukti bahwa harapan selalu memiliki jalan untuk tumbuh. Risti berhasil diterima di Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan, Sekolah Vokasi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

pedomanjogja.com (Sleman) - Di sebuah rumah sederhana di Karangsari, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kabar diterimanya Ristiana Artanti di Universitas Gadjah Mada menjadi kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Bagi gadis berusia 19 tahun itu, kesempatan berkuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia sempat terasa seperti mimpi yang terlalu jauh untuk diraih.


Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas, Risti tidak pernah berhenti berharap. Ayahnya, Rubikan (47), bekerja sebagai buruh proyek dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara sang ibu, Winarni (47), adalah ibu rumah tangga yang sebelumnya pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di Yogyakarta.

Keterbatasan ekonomi sempat membuat Risti khawatir tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun kerja keras dan prestasi yang ia bangun selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.


Risti berhasil diterima di Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan, Sekolah Vokasi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Tak hanya diterima tanpa tes, ia juga memperoleh beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol, sehingga dapat menempuh pendidikan tinggi tanpa biaya kuliah.

"Jujur, saya masih bingung dan belum percaya bisa mendapatkan kesempatan masuk Universitas Gadjah Mada," ujar Risti, Kamis (11/6/2026).


Menjaga Prestasi di Tengah Kesibukan

Perjalanan Risti menuju UGM bukanlah cerita keberuntungan semata. Selama bersekolah di SMA Negeri 1 Wates, ia dikenal sebagai siswa berprestasi yang aktif dalam berbagai kegiatan.


Selain mencatatkan prestasi akademik yang baik, Risti juga aktif di ekstrakurikuler marching band. Bersama timnya, ia beberapa kali meraih prestasi, termasuk dua kali menjadi juara umum tingkat kabupaten dan juara pertama tingkat provinsi.

Meski memiliki banyak aktivitas, Risti selalu berusaha menjaga keseimbangan antara kegiatan akademik dan nonakademik.


Ia menerapkan disiplin dengan menyusun skala prioritas agar latihan dan kegiatan organisasi tidak mengganggu proses belajar di sekolah.


Perjuangan Orang Tua Mengantar Mimpi Anak

Di balik keberhasilan Risti, terdapat perjuangan panjang kedua orang tuanya yang selama ini bekerja keras demi masa depan putri semata wayang mereka. Winarni mengaku sempat diliputi keraguan ketika Risti menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan kuliah. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil membuatnya bertanya-tanya apakah mereka mampu mendukung pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi.

"Kadang-kadang ada pekerjaan, kadang tidak. Bisa makan tiga kali sehari saja sudah bersyukur," tutur Winarni.


Namun sebagai seorang ibu, ia tidak ingin mematahkan mimpi anaknya. Apalagi selama ini Risti selalu menunjukkan kesungguhan belajar dan prestasi yang membanggakan. Perempuan yang hanya sempat mengenyam pendidikan hingga jenjang tertentu karena keterbatasan ekonomi itu mengaku tidak ingin putrinya mengalami nasib yang sama.


Dengan suara bergetar menahan haru, Winarni mengenang masa mudanya ketika harus mengubur impian melanjutkan sekolah karena kondisi keluarga. Ia bahkan tetap bekerja sebagai asisten rumah tangga saat mengandung Risti hingga usia kandungan tujuh bulan. Setelah Risti lahir dan berusia dua tahun, ia kembali bekerja sambil membawa putrinya ikut serta.

"Kalau bisa, anak saya jangan seperti saya. Biar hidupnya lebih baik," ujarnya sambil menahan air mata.


Buruh Proyek yang Bangga Melihat Anaknya Masuk UGM

Bagi Rubikan, kabar diterimanya Risti di UGM menjadi kebanggaan terbesar dalam hidupnya. Sejak tahun 1995, ia bekerja sebagai buruh proyek dengan penghasilan sekitar Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per hari ketika ada pekerjaan. Saat proyek sepi, ia mencari tambahan penghasilan dengan menggali batu putih di sekitar rumah untuk dijual.


Pekerjaan berat yang dijalani selama puluhan tahun itu tak pernah membuatnya berhenti berharap agar anaknya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi daripada dirinya.


Rubikan yang hanya menamatkan pendidikan dasar mengaku tidak pernah membayangkan putrinya bisa diterima di UGM.

"Saya tidak mengira anak saya bisa masuk UGM. Orang tuanya tidak sekolah tinggi, tapi anaknya bisa sekolah sampai di sana," katanya dengan mata berkaca-kaca.


Mimpi Mengabdi untuk Masyarakat

Tak lama lagi, Risti akan mengenakan jaket almamater UGM dan memulai perjalanan baru sebagai mahasiswa. Namun di balik kebahagiaan itu, ia telah menyiapkan mimpi yang lebih besar. Risti berharap ilmu yang diperolehnya kelak dapat digunakan untuk membantu masyarakat, khususnya di bidang pelayanan kesehatan.


Ia membayangkan dirinya bekerja di puskesmas maupun rumah sakit, termasuk di wilayah-wilayah yang masih membutuhkan peningkatan layanan kesehatan.

"Saya ingin bekerja di puskesmas atau rumah sakit, mungkin di daerah-daerah pelosok, untuk membantu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat," ujarnya.


Kisah Risti menjadi pengingat bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Dengan kerja keras, dukungan keluarga, dan kesempatan yang tepat, mimpi yang semula tampak jauh dapat berubah menjadi kenyataan. Dari sebuah rumah sederhana di Kulon Progo, langkah Risti menuju UGM menjadi bukti bahwa harapan selalu memiliki jalan untuk tumbuh. (Fzn)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...