PEDOMANJOGJA

Mubeng Beteng Digelar, Ribuan Warga Sambut Tahun Baru Jawa 1 Sura dengan Refleksi dan Kebersamaan

Redaksi

Redaksi

17 Jun 2026, 05:39 WIB
Mubeng Beteng Digelar, Ribuan Warga Sambut Tahun Baru Jawa 1 Sura dengan Refleksi dan Kebersamaan
Ribuan warga dari berbagai daerah mengikuti Lampah Budaya Mubeng Beteng, tradisi tahunan yang menjadi bagian dari penyambutan Tahun Baru Jawa 1 Sura Be 1960. (16/6/2026)

pedomanjogja.com (Yogyakarta) - Suasana malam di kawasan Kraton Yogyakarta tampak berbeda pada Selasa (16/6/2026). Ribuan warga dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti Lampah Budaya Mubeng Beteng, tradisi tahunan yang menjadi bagian dari penyambutan Tahun Baru Jawa 1 Sura Be 1960.


Tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta ini bukan sekadar berjalan mengelilingi benteng Kraton. Bagi banyak peserta, Mubeng Beteng menjadi momen untuk melakukan refleksi diri, menata harapan, sekaligus mempererat rasa kebersamaan dalam menyongsong tahun yang baru.


Kegiatan tersebut digagas oleh para abdi dalem bersama masyarakat sebagai bentuk partisipasi dalam menjaga warisan budaya Jawa yang telah berlangsung turun-temurun. Selain menjadi ruang spiritual, tradisi ini juga menjadi simbol dukungan masyarakat terhadap Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pusat pelestarian budaya Jawa.


Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Kusumanegara, menjelaskan bahwa Lampah Budaya Mubeng Beteng bukan merupakan agenda resmi Hajad Dalem Kraton, melainkan inisiatif bersama para abdi dalem dan masyarakat.


Menurutnya, kegiatan tersebut lahir dari semangat kolektif untuk menjaga keberlangsungan budaya sekaligus memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.

“Agenda ini memang bukan Hajad Dalem milik Keraton Jogja, tetapi inisiatif dari abdi dalem dan masyarakat dalam rangka nyengkuyung keraton sebagai pusat kebudayaan. Secara sosial dan kolektif, kami bersama-sama menjalankan Lampah Budaya Mubeng Beteng ini untuk menyatukan rasa dan melakukan refleksi bersama demi menyambut tahun baru yang lebih baik,” ujarnya.


Rangkaian kegiatan diawali pada pukul 21.00 WIB di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti Kraton Yogyakarta dengan pembacaan macapat. Melalui lantunan tembang tradisional tersebut, peserta diajak memanjatkan doa dan harapan agar kehidupan di tahun mendatang berjalan lebih baik.


Menjelang pergantian hari, sekitar pukul 23.30 WIB hingga 23.50 WIB, digelar seremoni dan persiapan pemberangkatan peserta. Setelah itu, ribuan peserta mulai melaksanakan lampah budaya dengan berjalan mengelilingi benteng Kraton Yogyakarta dalam suasana yang khidmat.


KRT Kusumanegara mengingatkan seluruh peserta untuk menjaga ketertiban dan keheningan selama prosesi berlangsung. Menurutnya, suasana tenang menjadi bagian penting dari makna spiritual yang terkandung dalam tradisi tersebut.


Di sisi lain, Pemerintah Daerah DIY juga terus mendorong pelestarian tradisi ini. Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Atlas Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, menyebut Lampah Budaya Mubeng Beteng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak tahun 2015.

“Sehingga ini menjadi tugas kita bersama untuk ikut andil dalam proses pelestariannya,” katanya.


Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya warga yang datang tidak hanya dari Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai daerah di luar DIY. Mereka ingin merasakan secara langsung pengalaman mengikuti tradisi yang sarat nilai budaya dan spiritual tersebut.


Salah seorang peserta, Viki Fendi, mengaku sengaja mengikuti Mubeng Beteng karena merasa tradisi Suronan merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Yogyakarta.

“Sebagai warga Jogja, setidaknya sekali seumur hidup mengikuti tradisi rutin Suronan. Persiapannya tidak ada yang khusus, karena dilakukan tengah malam jadi sebelumnya istirahat dulu,” ujarnya.


Pandangan serupa disampaikan Amalia Nurul. Menurutnya, tradisi Topo Bisu Mubeng Beteng masih sangat relevan bagi generasi muda saat ini. Ia melihat prosesi tersebut memiliki makna yang sejalan dengan tren refleksi diri dan kesehatan mental yang banyak diminati anak muda.

“Menurutku masih relevan di kalangan anak muda Gen Z. Kalau sekarang banyak yang mengenal healing atau meditasi, Topo Bisu Mubeng Beteng ini seperti meditasi berjalan, merenungi diri sambil melangkah. Bisa menjadi cara untuk melepas berbagai pikiran yang mengganggu,” katanya.


Lebih dari sekadar agenda budaya tahunan, Lampah Budaya Mubeng Beteng menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan kehidupan modern. Nilai-nilai introspeksi, kesederhanaan, kebersamaan, serta penghormatan kepada leluhur terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Fzn)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...