pedomanjogja.com (Yogyakarta) - Gelombang aksi mahasiswa yang menyoroti kondisi ekonomi nasional terus bergulir di Yogyakarta. Pada Senin (15/6/2026), ratusan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) turun ke jalan menyuarakan berbagai tuntutan yang mereka nilai penting bagi masa depan masyarakat.
Sejak siang hari, mahasiswa yang berasal dari berbagai fakultas melakukan long march dari kantor Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) UII di kawasan Kotabaru menuju pusat Kota Yogyakarta. Dengan membawa spanduk, poster, dan pengeras suara, mereka berjalan sekitar satu kilometer sebelum menggelar aksi di depan Kantor DPRD DIY dan melanjutkannya ke kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Di bawah terik matahari, para mahasiswa menyampaikan aspirasi melalui orasi dan mimbar bebas. Mereka mengangkat berbagai isu yang dinilai berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari kondisi ekonomi, ketenagakerjaan, hingga reformasi institusi negara.
Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum UII, Muhammad Radhi Nabil Akbar, menjelaskan bahwa aksi tersebut membawa enam tuntutan utama. Meski demikian, perhatian terbesar mahasiswa kali ini tertuju pada persoalan ekonomi yang dirasakan semakin berat oleh masyarakat.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap berbagai sektor, termasuk kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok. Kondisi tersebut dinilai semakin menambah beban masyarakat di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
"Aksi kali ini membawa enam tuntutan, tetapi fokus kami adalah perbaikan ekonomi. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi efek domino yang berdampak pada berbagai sektor. Kami juga menyoroti persoalan lapangan kerja, banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan pekerjaan dan banyak buruh mengalami PHK," ujarnya.
Selain isu ekonomi, mahasiswa juga menyuarakan kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta mendorong revisi Undang-Undang Polri. Mereka menilai proses pembahasan sejumlah kebijakan publik perlu melibatkan partisipasi masyarakat yang lebih luas agar aspirasi publik dapat terakomodasi secara maksimal.
Aksi mahasiswa UII tidak hanya mendapat dukungan dari sesama mahasiswa, tetapi juga dari kalangan dosen. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Hukum UII, Agus Triyanta, menilai gerakan mahasiswa merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa sebagai kelompok kritis dapat menjadi penyeimbang dalam sistem pemerintahan sehingga kebijakan yang dihasilkan tetap berada dalam koridor kepentingan publik.
"Kita harus senantiasa memelihara check and balances. Pemerintahan yang tidak memiliki kekuatan penyeimbang berpotensi bergerak ke arah yang tidak seimbang. Karena itu, kami mendukung mahasiswa menyuarakan aspirasi sebagai bentuk kecintaan terhadap negara," katanya.
Bagi para peserta aksi, turun ke jalan bukan sekadar menyampaikan kritik, melainkan juga bentuk kepedulian terhadap berbagai persoalan yang mereka lihat terjadi di masyarakat. Mereka berharap suara yang disampaikan dapat menjadi perhatian para pengambil kebijakan dan membuka ruang dialog yang lebih luas antara pemerintah dengan masyarakat.
Aksi berlangsung tertib hingga sore hari. Di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, mahasiswa menutup kegiatan dengan mimbar terbuka yang menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan pandangan dan harapan mereka terkait kondisi bangsa saat ini. (Hyu)