PEDOMANJOGJA

Usai Didemo Mahasiswa di UGM, Sudaryono Tegaskan Datang untuk Berdialog, Bukan Menghindar

Redaksi

Redaksi

16 Jun 2026, 05:53 WIB
Usai Didemo Mahasiswa di UGM, Sudaryono Tegaskan Datang untuk Berdialog, Bukan Menghindar
Setelah forum berakhir ricuh akibat aksi protes mahasiswa, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memberikan klarifikasi terkait peristiwa tersebut.

pedomanjogja.com (Sleman) – Insiden yang mewarnai diskusi publik di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (15/6/2026) malam, masih menjadi perhatian berbagai pihak. Setelah forum berakhir ricuh akibat aksi protes mahasiswa, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memberikan klarifikasi terkait peristiwa tersebut.


Sudaryono menegaskan bahwa dirinya bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko datang ke UGM dengan tujuan berdiskusi secara terbuka dengan mahasiswa.


Menurutnya, kegiatan tersebut telah direncanakan jauh hari dan memperoleh izin dari pihak kampus. Ia juga menyebut forum semacam itu bukan kali pertama dilakukan.


"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," ujar Sudaryono dalam keterangan persnya.


Sejak awal forum berlangsung, kata Sudaryono, para narasumber membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan maupun kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.


"Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," katanya.


Namun situasi berubah ketika sekelompok peserta menyampaikan penolakan terhadap keberlangsungan forum. Menurut Sudaryono, saat itu diskusi telah berjalan sekitar 30 hingga 40 menit dan sebagian besar peserta masih ingin melanjutkan dialog.


"Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," ungkapnya.


Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah mahasiswa membentangkan spanduk penolakan dan suasana forum menjadi tidak kondusif. Sudaryono mengaku tetap bertahan bersama Nusron Wahid karena meyakini dialog merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan pandangan.


Namun kondisi semakin memanas setelah terjadi pelemparan air mineral dan dugaan tindakan fisik terhadap dirinya.

"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ujarnya.


Sudaryono membantah anggapan bahwa dirinya dan Nusron Wahid meninggalkan lokasi untuk menghindari mahasiswa. Ia justru menegaskan bahwa keduanya sempat kembali menemui massa dan melanjutkan dialog secara langsung di luar gedung.

"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tegasnya.


Dalam dialog spontan tersebut, sejumlah mahasiswa menyampaikan kritik terkait persoalan agraria, termasuk dugaan penggusuran dan alih fungsi lahan. Menanggapi hal itu, Sudaryono mengaku terbuka untuk menindaklanjuti setiap laporan yang disampaikan masyarakat.


"Kalau memang ada penggusuran atau persoalan agraria tertentu, ayo kita cek bersama. Saya bahkan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya," katanya.


Ia juga menegaskan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tetap membuka ruang kritik dan masukan dari masyarakat.

"Kalau ada yang keliru, kita perbaiki. Itu cerminan demokrasi. Orang boleh punya pendapat, tetapi juga harus menghargai pendapat orang lain," ujarnya.


Di akhir keterangannya, Sudaryono menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang hadir dengan niat berdiskusi namun tidak dapat mengikuti forum secara optimal akibat situasi yang berkembang.

"Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa yang sebetulnya ingin berdialog secara baik. Kami siap jika diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Yang penting kita berdiskusi," katanya.


Sebelumnya, forum diskusi bertajuk "Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia" yang digelar di kawasan GIK UGM didatangi ratusan mahasiswa yang menyampaikan penolakan terhadap kehadiran para narasumber. Aksi tersebut sempat menghentikan jalannya acara dan berujung pada proses evakuasi para pejabat negara dari lokasi kegiatan. (Fzn)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...