PEDOMANJOGJA

BEM UGM Bertransformasi Menjadi Serikat Mahasiswa, Usung Gerakan yang Lebih Egaliter

Redaksi

Redaksi

02 Jun 2026, 04:30 WIB
BEM UGM Bertransformasi Menjadi Serikat Mahasiswa, Usung Gerakan yang Lebih Egaliter
Ketua BEM UGM 2025, Tyo Ardianto, memandang transformasi ini sebagai upaya menyesuaikan gerakan mahasiswa dengan realitas baru yang dihadapi kampus dan masyarakat.

pedomanjogja.com (Sleman) Bundaran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) pada peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026), menjadi saksi lahirnya babak baru gerakan mahasiswa di kampus kerakyatan tersebut. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM yang selama ini dikenal sebagai organisasi eksekutif mahasiswa tingkat universitas, resmi bertransformasi menjadi Serikat Mahasiswa (Sema) UGM.


Transformasi ini bukan sekadar pergantian nama. Di balik deklarasi tersebut, terdapat perubahan mendasar dalam cara pandang, struktur organisasi, hingga mekanisme kepemimpinan yang selama ini dijalankan.


Pelaksana Tugas Ketua BEM UGM sekaligus Ketua Sema UGM 2026, Sheron Adam Funay, mengatakan bahwa perubahan tersebut lahir dari refleksi panjang terhadap berbagai persoalan yang selama ini melekat pada organisasi mahasiswa. Menurutnya, praktik elitisme dan fragmentasi gerakan menjadi tantangan yang perlu diatasi agar organisasi mahasiswa dapat lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

"Sema bukan lagi badan eksekutif yang bersifat hierarkis, melainkan organisasi yang lebih egaliter," ujar Sheron.


Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM itu menjelaskan, Sema hadir dengan semangat menyetarakan kedudukan mahasiswa hingga ke tingkat fakultas. Dengan konsep baru tersebut, organisasi diharapkan mampu mengurangi sekat-sekat yang selama ini membuat gerakan mahasiswa berjalan sendiri-sendiri.

"Kami mencoba mengobati berbagai persoalan yang ada, terutama fragmentasi gerakan itu sendiri," katanya.


Berbeda dengan BEM yang selama ini kerap dipandang sebagai representasi seluruh mahasiswa UGM, Sema memilih posisi yang lebih setara. Organisasi ini tidak lagi mengklaim sebagai satu-satunya suara mahasiswa, melainkan hanya mewakili anggotanya sendiri.


Sementara itu, organisasi mahasiswa lainnya dipandang memiliki kedudukan yang sama.

Menurut Sheron, suara mahasiswa sejatinya dimiliki oleh masing-masing individu dan kelompok, bukan oleh satu organisasi tertentu.

"Suara mahasiswa UGM itu dimiliki oleh masing-masing, tidak dimiliki oleh BEM.


Serikat Mahasiswa UGM kepentingannya untuk anggota saja, bukan untuk secara utuh mewakili seluruh mahasiswa," ujarnya.

Perubahan juga terjadi pada mekanisme regenerasi kepemimpinan. Jika sebelumnya pemimpin organisasi dipilih melalui Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa), kini proses pemilihan dilakukan secara internal dengan mengedepankan prinsip meritokrasi. Posisi strategis diberikan berdasarkan kemampuan, kompetensi, dan rekam jejak kerja, bukan semata-mata hasil kontestasi politik.

Sheron menilai, selama ini Pemilwa tidak lepas dari berbagai dinamika yang menyerupai praktik politik nasional, mulai dari patronase hingga berbagai bentuk persaingan yang dinilai kurang sehat.

"Kami ingin menjunjung tinggi meritokrasi dan kerja keras teman-teman. Mereka mendapatkan posisi strategis karena kemampuannya, bukan karena kemenangan politiknya," ungkapnya.


Ke depan, Sema UGM berencana memfokuskan diri pada penguatan basis ideologi organisasi dan konsolidasi pengetahuan. Organisasi tersebut ingin terus memperbarui perspektif keberpihakan dan strategi gerakan agar tetap relevan dalam menjawab tantangan sosial maupun politik yang terus berkembang.


Sementara itu, Ketua BEM UGM 2025, Tyo Ardianto, memandang transformasi ini sebagai upaya menyesuaikan gerakan mahasiswa dengan realitas baru yang dihadapi kampus dan masyarakat.

Menurutnya, model representasi mahasiswa yang selama ini digunakan tidak lagi cukup efektif untuk menjawab tingginya tingkat apatisme mahasiswa terhadap gerakan kampus. Karena itu, pendekatan yang lebih menekankan partisipasi dinilai menjadi kebutuhan mendesak.

"Dalam konteks saat ini, yang dibutuhkan sebenarnya bukan lagi representasi, melainkan partisipasi," kata Tyo.


Ia berharap langkah yang diambil UGM dapat menjadi inspirasi bagi kampus-kampus lain untuk melakukan refleksi dan pembaruan terhadap model gerakan mahasiswa yang selama ini dijalankan.

Transformasi dari BEM menjadi Serikat Mahasiswa menandai upaya UGM mencari bentuk baru gerakan kemahasiswaan yang lebih inklusif, partisipatif, dan relevan dengan tantangan zaman. Di tengah perubahan sosial yang terus bergerak cepat, organisasi mahasiswa dituntut tidak hanya menjadi simbol representasi, tetapi juga ruang bersama untuk membangun kesadaran, pengetahuan, dan aksi kolektif. (Hrd)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...