pedomanjogja.com (Sleman) Nama Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ikut terseret dalam pusaran polemik dugaan riset palsu yang dipresentasikan dalam sebuah konferensi internasional di Kopenhagen, Denmark. Namun, alih-alih terburu-buru mengambil kesimpulan, kampus memilih bersikap hati-hati.
Pimpinan UNY kini tengah menelusuri kemunculan sejumlah nama yang disebut-sebut sebagai alumninya dalam 19 abstrak penelitian yang dipersoalkan di media sosial. Dugaan pelanggaran etik akademik itu mencuat setelah seorang peserta konferensi mengunggah temuan yang dinilai janggal terkait sejumlah publikasi ilmiah yang dipresentasikan dalam forum tersebut.
Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Prof. Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, mengatakan pihaknya memang menemukan adanya kesamaan nama antara sejumlah penulis dalam abstrak yang dipersoalkan dengan data alumni yang dimiliki kampus. Namun, menurut dia, kesamaan nama belum cukup untuk memastikan identitas seseorang.
"Kami harus sangat berhati-hati. Nama yang muncul memang ada di basis data alumni kami, tetapi terdapat sejumlah ketidaksesuaian yang justru menimbulkan tanda tanya," kata Nur Hidayanto.
Salah satu contoh yang menjadi perhatian kampus adalah nama alumni yang tercatat sebagai lulusan Program Studi Matematika, tetapi dalam publikasi yang beredar justru disebut berasal dari bidang kedokteran dengan spesialisasi yang bahkan belum dimiliki UNY.
"Misalnya ada nama yang di data kami merupakan lulusan Matematika, tetapi dalam abstrak penelitian tercantum berasal dari departemen transplantasi hati. Di UNY sendiri belum ada departemen seperti itu. Karena itu kami perlu memastikan apakah benar orang yang dimaksud adalah alumni kami atau hanya memiliki nama yang sama," ujarnya.
Menunggu Klarifikasi Langsung
Hingga kini, UNY mengaku belum berhasil bertemu dengan nama-nama yang disebut dalam unggahan media sosial tersebut. Informasi yang diperoleh kampus menyebut mereka masih berada di luar negeri mengikuti rangkaian kegiatan konferensi.
Kondisi itu membuat proses verifikasi belum dapat dilakukan secara langsung. Kampus pun memilih mengumpulkan berbagai data pendukung sebelum mengambil sikap resmi.
Menurut Nur Hidayanto, langkah tersebut penting untuk menghindari kesalahan identifikasi yang justru dapat merugikan pihak lain.
"Kalau kami gegabah menyatakan seseorang adalah alumni kami dan ternyata bukan, dampaknya bisa sangat besar. Karena itu kami ingin memastikan semua informasi yang kami sampaikan kepada publik benar-benar sahih," katanya.
Koordinasi dengan Kementerian
UNY juga telah berkomunikasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk membahas perkembangan kasus tersebut. Selain itu, komunikasi informal dilakukan dengan sejumlah perguruan tinggi lain yang namanya juga muncul dalam polemik serupa.
Menurut Nur Hidayanto, kemungkinan akan dibentuk tim kecil yang melibatkan pihak kampus, kementerian, dan unsur pengawas internal pemerintah untuk menelusuri kasus tersebut secara lebih mendalam.
"Kami tidak bisa berjalan sendiri. Jika nanti terbukti ada pelanggaran etik akademik, tentu langkah lanjutan akan dilakukan dengan berkoordinasi bersama kementerian dan pihak terkait," ujarnya.
Soal Sanksi, UNY Masih Menunggu Hasil Penelusuran
Mengenai kemungkinan pemberian sanksi, UNY menegaskan belum dapat mengambil keputusan apa pun. Selain karena proses verifikasi masih berlangsung, regulasi yang ada saat ini lebih banyak mengatur sanksi bagi mahasiswa aktif dibandingkan alumni.
Meski demikian, Nur Hidayanto menegaskan bahwa kampus memiliki komitmen kuat dalam menjaga integritas akademik.
"UNY selalu menjunjung tinggi kejujuran akademik, etika, dan moral. Jika nantinya ditemukan pelanggaran yang melibatkan alumni kami, tentu akan ada tindak lanjut sesuai mekanisme yang berlaku," katanya.
Bagi UNY, kasus ini bukan hanya soal nama yang muncul dalam sebuah publikasi internasional. Lebih dari itu, kasus ini menyangkut kredibilitas dunia akademik yang dibangun melalui proses panjang, kehati-hatian, dan komitmen terhadap kebenaran ilmiah.
Karena itulah, di tengah derasnya arus informasi di media sosial, kampus memilih untuk menempatkan verifikasi fakta sebagai langkah pertama sebelum menjatuhkan penilaian. (Hrd)